|
Ponsel Nokia 1100 Bisa Bobol Bank looo?
|
Wellcome
selamat Datang di blog sederhana Ilhamsyah_potter..
enjoy to my blog.........
enjoy to my blog.........
Sabtu, 22 September 2012
Selasa, 18 September 2012
Memohon Nafkah
Fadlan datang kepada seorang kyai di kampungnya. Ia merasa bingung. Sudah banyak
cara telah ia tempuh, namun rezeki masih tetap sulit ia cari.
Kata orang, rezeki itu bisa datang sendiri, apalagi kalau sudah menikah. Buktinya,
sudah 3 tahun ia menikah dan dikarunia dua orang anak, ia masih tetap hidup luntang-lantung
tak menentu.
Benar, keluarganya tidak pernah kelaparan sebab tidak ada makanan. Namun kalau
terus-terusan hidup kepepet dan tidak punya pekerjaan, rasanya tidak ada kebanggaan diri.
Ia pun datang kepada Kyai Ahmad untuk minta sumbang saran. Kalau boleh sekaligus
minta do’a dan pekerjaan darinya. Terus terang, ia sendiri kagum dengan sosok Kyai Ahmad
yang amat bersahaja. Tidak banyak yang ia kerjakan, namun dengan anak 9 orang, sepertinya
mustahil bila ia tidak pusing memikirkan nafkah keluarga. Tapi nyatanya, sampai sekarang
Kyai Ahmad tetap sumringah di mata Fadlan. Tidak pernah ia lihat Kyai Ahmad bermuka
muram seperti dirinya. Makanya hari itu, Fadlan datang untuk meminta nasehat kyai tersebut.
“Hidup ini adalah adegan. Kita hanya wayang, sementara dalangnya adalah Gusti
Allah! Jadi, manusia itu hidup karena disuruh ‘manggung’ oleh Dalangnya!” Kyai Ahmad
membuka penjelasan dengan sebuah ilustrasi ringan.
“Gak mungkin… kalau wayang itu manggung sendiri. Pasti, ia dimainkan oleh
Dalang. Sementara selama di panggung, pasti Dalang akan memperhatikan nasib wayang itu!
Begitu juga manusia… gak mungkin dia hidup di dunia, tanpa diperhatikan segala
kebutuhannya oleh Gusti Allah! Sudah paham belum kamu, Fadhlan?!” Kyai Ahmad
mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.
“Tapi pak kyai…, kalau Gusti Allah benar menjamin hidup hamba-Nya… kenapa
hidup saya seperti sia-sia begini ya… nyari nafkah saja kok susah!” Fadlan menyampaikan
keluhnya.
“Oh… itu karena kamu belum datang kepada Gusti Allah. Kalau kamu datang kepada
Gusti Allah, hidupmu gak bakal sia-sia!” Kyai Ahmad menambahkan.
Fadhlan belum mengerti betul apa maksud sebenarnya dari kata ‘datang kepada
Allah’, ia pun menanyakan gambaran kongkrit tentang hal itu kepada Kyai Ahmad.
Dengan santai Kyai Ahmad menjelaskan, “Fadlan…, semua masalah di dunia ini
bakal selesai asal kita datang kepada Allah. Banyak di dunia ini orang yang bermasalah,
punya hutang segunung, rezeki sulit, ditimpa berbagai macam penyakit, kemiskinan,
kelaparan dan lain-lain… Itu disebabkan karena mereka tidak datang kepada Allah. Kalau
saja mereka datang kepada Allah, maka segala masalah mereka terselesaikan!”
“Apakah hanya sesederhana itu, pak Kyai?” Fadlan bertanya dengan nada penasaran.
“Ya, hanya sesederhana itu!” Pak kyai menegaskan.
Pak Kyai bercerita, “Pernah terjadi di Rusia di sebuah negeri yang terkenal atheis,
seorang pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk. Kepalanya
mulai mengangguk-angguk karena kantuk. Tukang cukur merasa kesal, namun untuk
membangunkan pelanggannya, si tukang cukur mulai bicara:
‘Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?’
Pelanggan menjawab, ‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!’
Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali,
‘Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!’
‘Apa alasanmu?’ pelanggan melempar tanya.
‘Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah,
terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini khan bukti
sederhana bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!’ tukang cukur berbicara dengan cukup
lantang.
Si pelanggan terdiam. Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang,
sampai cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban. Maka pembicaraan pun
terhenti. Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan
perdebatan.
Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan
ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk
meninggalkan tempat. Namun dalam langkahnya, ia masih tetap mencari jawaban atas
perdebatan kecil yang baru ia jalani.
Saat berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak
melangkahkan kakinya keluar…. saat itu Allah Swt mengirimkan jawaban padanya.
Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. Rambut
panjang tak terurus, janggut lebat berantakan.
Demi melihat hal sedemikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup
kembali. Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata, ‘Pak, menurut saya yang tidak
ada di dunia ini adalah TUKANG CUKUR!’ Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang
cukur balik bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda berkata demikian. Padahal baru saja rambut
Anda saya pangkas!’
‘Begini pak, di jalan saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang
tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur,
rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan
penjelasannya.
Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak… bukan
Tukang Cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria gila yang Anda ceritakan tidak mau hadir dan datang ke sini, ke tempat saya… Andai dia datang, maka
rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan sedemikian!’
Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara, ‘Naaaahhhh…. itu dia jawabannya.
Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!’ ‘Apa
maksudmu?’ si tukang cukur tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya.
‘Anda khan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya masalah. Kalau
saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama
kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!’”
Kyai Ahmad mengakhiri kisah yang ia sampaikan. Terlihat Fadlan menganggukkan
kepala tanda mengerti.
“Jadi…, kamu hanya tinggal memohon saja apa yang kamu inginkan kepada Allah Swt., pasti
Allah bakal berikan apa yang kamu pinta!” Kyai Ahmad berkata memberi garansi.
Fadlan sudah mulai yakin, tapi ia masih mengejar dengan satu pertanyaan, “Pak Kyai,
saya sudah niat untuk datang dan semakin mengakrabkan diri kepada Allah. Tapi bagaimana
caranya ya pak Kyai agar saya bisa memohon nafkah yang cukup kepada Allah?”
Kemudian Pak Kyai membacakan ayat dalam Al Qur’an:
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan
kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke
dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang
hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau
beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. QS. Ali Imran : 26-27..
soooo......
kesimpulan y ap ne......???
Rabu, 12 September 2012
Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak
Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di
sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu
menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu
menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal
kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang
sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal
hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya
katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang
kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu
kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi
rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si
Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya
memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.
PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti
kepada kedua orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi
diamalkan???
Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.
Senin, 10 September 2012
Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy
Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah,
beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya
Karim!”
Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu
berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah
s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti
diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang
gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:
“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku,
karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan
kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.
”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya:
“Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi
bagaimana kau beriman kepadanya?”
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah
melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu
dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya:
“Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah
Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia
tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
“Tuan ini Nabi Muhammad?!”
“Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk
mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang
Arab itu, seraya berkata kepadanya:
“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya
dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk
menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi
membawa berita.
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata:
“Ya
Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah
kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa
Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik
yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang
Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah
bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka
5
hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu.
‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan
memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan
kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa
kedermawanannya!’
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis
mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh
membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:
Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari
bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa
Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya.
Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga
nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis
karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya".
Jumat, 13 April 2012
motivasi Hidup adalh pilihan
Dalam hidup sangat banyak pilihan, kadang kita tidak menyadari banyak
pilihan yang terbaik yang ditawarkan tuhan untuk kita. Tapi kadang kita
juga merasa hidup tidak ada pilihan. Kadang itu terjadi kalau kita
telah salah dalam suatu langkah.saat kita sudah menyia-nyiakan waktu
terbaik yang tuhan sudah berikan pada kita dan kita tersadar waktu tidak
akan berputar arah kembali kebelakang untuk memberi kita kesempatan
memilih pilihan yang lain.rasa kecewa terhadap pilihan yang salah,
pilihan yang awalnya kita kira itu adalah pilihan terbaik ternyata tidak
sebaik yang diharapkan. Sebaliknya pilihan yang dulu terlihat tidak
sebaik yang dibayangkan ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.
Dengan uang manusia tidak akan menjadi apa-apa bila tidak
memanivestasikan uang itu dengan baik. Hidup bukan pertaruhan harus
dianggap ada yang kalah dan menang atau hidup dan mati dan satu hal,
tidak ada yang baik dalam pertaruhan apapun itu.
Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup apapun bentuknya itu
kadang membuat kita merasa terpuruk dan terjatuh. kembali dan percaya
pada tuhan adalah hal terbaik yang mampu memberi kita kekuatan untuk
kita bangkit dari masalah apapun itu. tapi ikhlas bukan berarti kita
harus pasrah dengan keadaan. ingat, kesalahan dan dosa Cuma beda satu
angka. Kesalahan dari sebuah pilihan yang salah tentunya akan
mengorbankan diri kita dan orang - orang yang kita cintai. Orang –orang
yang seharusnya bahagia dan tidak seharusnya mengalami kesusahan akan
jadi korban keangkuhan dan ego kita dalam mengambil suatu keputusan.
Memang tidak pernah ada yang kita sesali sebelum semuanya terjadi. Tapi
sampai kapan semua kesalahan harus jadi penyesalan?.
Hidup memang semata bukan pilihan, masih banyak yang harus kita
lakukan agar kita mendapati hidup yang lebih baik dan lebih baik lagi
tiap detiknya dan itu semua membutuhkan waktu dan perjalanan yang
panjang yang mungkin akan membuat kita merasa sedikit letih dengan semua
itu. tapi kita akan mendapatkan bayaran yang sangat memuaskan dari
semua itu dan kita memang pantas mendapatkannya.
Dalam dunia ini tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan
kesalahan, apapun bentuk dari sebuah kesalahan itu jangan sampai
mengalahkan semangat anda untuk terus hidup. Karena hidup bukan sekedar
bertahan dan berjuang. Tapi hidup adalah perjuangan yang sangat panjang
dan memang sangat melelahkan. Jangan belajar dari kesalahan tapi
perbaikilah kesalahan yang sudah kita buat. Dari kesalahan yang sudah
kita lakukan, kita bisa membuat sesuatu yang sangat sempurna. Itulah
yang membuat perbedaan dari dua makna kata belajar dan memperbaiki. Bila
kita belajar dari setiap kesalahan, apa kita harus membuang waktu dan
kesempatan yang ada hanya untuk terus belajar dari kesalahan, lalu kapan
kita akan bertindak. Tapi bila kita memperbaiki setiap kesalahan yang
kita buat itu akan membuat kita mempunyai banyak kesempatan mencoba
sesuatu yang baru.kesalahan, apapun itu besar atau kecil tidak harus
membuat kita lari dari kenyataan. Kenyataan bila dihadapi dengan hati
terbuka akan menjadi suatu keindahan dalam hidup kita, kenyataan apapun
itu. Keikhlasan adalah sebuah kunci kebahagiaan hidup seseorang.
Siapapun kita, bila sudah menjadi ikhlas dalam menjalankan dan
mendapatkan apapun, akan hilang beban moril yang selalu menghantui kita.
Hidup yang bahagia dan sudah sempurna menurut kita, tidak seharusnya
membuat kita menjadi insan yang sombong. Karena suatu saat nanti
kesombongan itu akan melumpuhkan hidup kita. Kesombongan itu akan
menjelma menjadi virus yang menggerogoti hidup kita pelan-pelan. Apapun
yang kita punya dan kita miliki bukan untuk disombongkan. Manusia
ditakdirkan hidup untuk bersosialisasi dan saling berbagi karena dengan
berbagi kita akan menjadi menusia yang mulia dimata tuhan. Hidup ini
tidak sendirian, ada tuhan dihati kita, ada keluarga, ada orang-orang
yang kita cintai, ada sahabat, ada orang yang belum kita kenal dan ada
orang-orang yang tidak seberuntung kita. Memang enak untuk memikirkan
dan mementingkan diri sendiri. Tapi itu bukan pilihan yang baik untuk
hidup dan menyandang predikat mahkluk ciptaan tuhan yang diberi nama
manusia. Karena manusia lahir dan hidup, tumbuh dan berkembang mempunyai
kelebihan dan kesempurnaan dibanding ciptaan tuhan yang lainnya.
Mulai saat ini mari kita buka mata, telinga, hati dan pikiran kita
untuk memilih yang terbaik untuk hidup kita dan orang-orang yang kita
cintai. kerja keraslah untuk meraih keajaiban. Ikhlaskanlah sepenuh hati
apa yang telah hilang dan pergi dalam hidup kita, terimalah kenyataan
hidup dengan sangat ikhlas dan jadilah diri sendiri. Kesalahan dalam
hidup bukan hantu yang selalu akan menghantui waktu kita, dengan
kesalahan kita akan lebih mengerti seperti apa kenyataan dan keras hidup
ini. Rangkullah orang-orang yang tidak seberuntung kita bila kita mampu
dengan membantu dan berbagi apa yang mereka butuhkan. Jangan pernah
memikirkan dan mementingkan diri sendiri. Hiduplah menggunakan hatimu.
Karena dengan hati kita akan menjadi lebih peka dalam melihat dan
merasakan apa yang orang lain rasakan. Bila itu telah kita lakukan,
kecil kemungkinannya untuk kita melukai perasaan orang lain dan reward
terbaik yang kita dapatkan adalah kita akan mempunyai hidup yang lebih
baik dan pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Bicara tentang hidup dan kehidupan tidak akan pernah cukup dengan
ribuan kata. Saya sebagai penulis disini berharap dengan secuplik
tulisan ini, bisa membuat kita lebih menghargai dan memaknai hidup ini
dengan lebih baik. Memang tidak ada yang dapat merubah apa yang sudah
ditakdikan tuhan untuk kita, karena setiap manusia sudah ada jalan
hidupnya masing-masing. Selama didunia tuhan memberikan kita banyak
pilihan untuk kita jalani dalam hidup. Satu hal yang harus kita ingat,
hanya kita yang menentukan akan dibawa kemana jalan dan tujuan hidup
kita. Apakah kita akan memilih jalan yang akan membuat hidup kita
menjadi lebih baik tiap detiknya untuk sekarang dan sesudah akhir hidup
ini atau apakah kita akan memilih jalan yang kita sendiri tidak tahu
kemana tujuan kita menjalaninya. Itu semua hanya kita yang menentukan
dan berujung dengan takdir yang telah tuhan gariskan pada kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
